Rabu, 15 November 2017

Penjor Sederhana Bernuansa Alami

Penjor sederhana

            Hari Raya Galungan identik dengan penjor yang dipasang di tepi jalan atau di depan rumah, menghiasi jalan raya yang bernuansa alami. Penjor adalah bambu yang dihias sedemikian rupa sesuai tradisi masyarakat Bali setempat. Hari Raya Galungan adalah hari umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta jagad raya beserta seluruh isinya, serta merayakan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma). Sebagai ucapan syukur, umat Hindu memberi dan melakukan persembahan pada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara (dengan segala manifestasinya). Dalam membuat penjor dilakukan pada saat Penampahan Galungan. Penampahan Galungan jatuh pada hari Selasa Wage wuku Dungulan. Umat Hindu disibukkan dengan pembuatan penjor sebagai ungkapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugrah yang diterima.
Penjor tersebut dibuat dari batang bambu melengkung yang diisi hiasan sedemikian rupa. Selain membuat penjor umat hindu juga menyembelih babi yang dagingnya akan digunakan sebagai pelengkap upacara, penyembelihan babi ini  mengandung makna simbolis membunuh semua nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Kepercayaan umat hindu pada umumnya, hari Penampahan Galungan ini para leluhur akan mendatangi sanak keturunannya yang ada di dunia. Oleh karena itu masyarakat Bali membuat suguhan khusus yang terdiri atas nasi, lauk-pauk, jajanan, buah, kopi, air, lekesan (daun sirih dan pinang) atau rokok yang ditujukkan kepada leluhur yang “menyinggahi” mereka di rumahnya masing-masing. Seperti penjor sederhana yang ada di bawah ini berikut tahap-tahap pembuatannya :





































Selasa, 14 November 2017

Membuat Hiasan

Penampahan Galungan
“Membuat hiasan atau gantungan”
          Penampahan Galungan, semua umat hindu membuat hiasan atau gantungan yang akan diletakkan pada setiap pelinggih. Ketika penampahan Galungan umat hindu banyak sibuk membuat banten, penjor, lawar, bahkan membuat persembahan lainnya. Persiapan yang dilakukan yaitu saat penampahan Galungan dan esok hari menyambut hari kemenangan dharma melawan adharma tidak lain disebut Hari Raya Galungan. Tempat tinggal di Desa Pemaron cara membuat dengan khas dari Singaraja-Bali, tak lupa disampaikan cara membuat hiasan atau gantung-gantungan sederhana yang akan di letakkan setiap pelinggih, dan berikut dibawah ini akan saya jelaskan: 
1.   Siapakan busung terlebih dahulu.



      2.   Ambil pisau kemudian potong sesuai keinginan dan harus seni.

3            
                    3.   Kemudian jahit menggunakan semat.




4
   
                      4.   Pada bagian depan terlihat seperti gambar di bawah ini
5.      

                5.   Pada bagian atas di jahit seperti gambar di bawah ini.


         6.   Hiasan atau gantung-gantungan sudah siap untuk di letakkan. Gantung-gantungan ini dibuat menjadi 3, gambar di bawah ini untuk di bagian tengah dan untuk bagian kiri dan kanan akan di hiasi dengan bunga.


      7.   Gambar di bawah adalah gantung-gantungan yang sudah selesai dibuat lengkap.


Opini

Toleransi Antarumat Beragama Cerminan Bhineka Tunggal Ika
Oleh
Luh Ade Widiantari

            Umat beragama adalah umat yang saling menghargai, menghormati, dan mampu beradaptasi dengan umat beragama lainnya dengan baik menurut sudut pandang agama dan dianutnya. Toleransi antarumat beragama juga berpengaruh terhadap cerminan dari Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Begitu arti simbol dari Bhineka Tunggal Ika. Arti simbol tersebut dapat diubah dan saat ini arti simbol sudah dikenal di seluruh penjuru Indonesia. Toleransi adalah suatu sikap atau perilaku yang saling menghormati dan saling menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Toleransi antarumat beragama dimulai dari diri sendiri agar terciptanya saling menghormati dan menghargai antarumat beragama lainnya.
             Menurut A. A. Gede Ngurah mengatakan toleransi yang diterapkan sangat tinggi untuk umat agama lainnya. A. A. Gede Ngurah sebagai kelian Pura Taman Sari sudah masa jabatan 8 tahun. Menjabat kelian Pura tidak mudah. Banyak perubahan yang dilakukan demi perubahan Pura Taman Sari. Ratusan tahun yang lalu pura sudah berdiri, tetapi sebelumnya bernama Pura Gerojogan, kemudian berubah nama menjadi Pura Taman Sari sejak 1968. Pura Gerojogan yang saat itu terkenal sakralnya di Buleleng tahun 1801. Masjid belum didirikan hanya pura yang lebih dahulu ada di Jalan Pulau Selayar. Selain itu, fenomena dari Pura Taman Sari disungsung oleh Subak Kayupas. Pura Pamayun Banyuning juga nunas tirta di Pura Taman Sari serta melakukan persembahyangan. Banyak masyarakat yang percaya dengan Pura Taman Sari dan masyarakat selalu berdatangan melakukan persembahyangan termasuk mahasiswa Undiksha.
A.A. Gede Ngurah menjadi kelian pura telah membuat Pura Taman Sari menjadi lebih baik. Mulai dari patung, piasan, dan adanya wantilan. “Dilihat dari tahun sebelumnya, Pura Taman Sari tidak ada perubahan karena kelian pura beda pemikiran dengan kelian yang sekarang,” jelas Gede Ngurah. Masyarakat mulai berbaur dengan umat agama lainnya dan ingin mendirikan sebuah masjid di dekat Pura Taman Sari. A.A. Gede Ngurah mengatakan pembangunan masjid telah disetujui dan ia juga memberikan toleransi terhadap umat agama Islam. A.A. Gede Ngurah sangat terbuka dengan masyarakat sehingga ia menerapkan sistem toleransi yang baik dan benar, serta ia memberikan pelajaran kepada generasi muda saat ini. Moh. Bakri (53) adalah seorang pengurus masjid di Jalan Pulau Selayar 21 dan berasal dari Madura. Menjadi pengurus masjid sejak tahun 1978 hingga sekarang. Menurut Moh. Bakri yang merupakan pengurus Masjid di Jalan Pulau Selayar 21 mengatakan bahwa zaman dulu masyarakat menyebut sebagai musolla bukan masjid. Ketika musolla yang berdiri sejak tahun 1942 itu berubah nama menjadi Masjid Al-Maimuni.
Masyarakat hidup rukun dan damai tanpa adanya masalah karena masyarakat menerapkan sistem toleransi yang dikatakan oleh A.A. Gede Ngurah, yaitu kejujuran, kebaikan, dan kebenaran. Selain itu, masyarakat di sana membangun usaha tempe dan tahu. Usaha tersebut terkenal sehingga banyak mahasiswa yang berkunjung dan melakukan observasi mengenai cara pembuatan tempe, tahu. Akhirnyya,  hasil observasi dijadikan sebuah penelitian oleh mahasiswa. Moh. Bakri mengatakan bahwa mahasiswa tidak hanya berkunjung cara membuat tahu dan tempe, tetapi mahasiswa juga berkunjung ke Pura Taman Sari untuk bergotong royong. Pada akhirnya Masjid Al-Maimuni dan Pura Taman Sari menjadi satu di Jalan Pulau Selayar sampai saat ini.
Pura dan masjid dekat dengan pantai. Masyarakat mulai beradaptasi dengan  lingkungan mereka masing-masing. Menurut Moh. Bakri ketika umat Islam membuat acara besar, seperti Idul Fitri, sebagian warga memotong hewan kurban. Setelah mereka memotongnya, kemudian warga memberikan kepada umat lain dalam bentuk silaturahmi. Sebaliknya umat Hindu memiliki acara yang besar, seperti perkawinan umat lain mengadakan kunjungan. Begitu juga saat umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu umat lain ikut membantu menertibkan parkir meskipun sudah ada pecalang yang mengatur. Seiring berjalannya waktu, hal itu sering dilakukan agar tidak terjadi pertentangan antarsesama umat agama lainnya dan selalu terjalin hubungan yang rukun serta harmonis. Moh. Bakri mengatakan selama tinggal bersama dengan umat agama lain tidak pernah terjadi konflik atau pertentangan. Mereka menjalaninya dengan baik hingga saat ini. Moh. Bakri menambahkan pengurus pura atau masjid harus membagi jalan menjadi dua untuk pengendara motor dan mobil saat memiliki acara besar. Hal itu dilakukan karena jalan tersebut sempit dan tidak boleh sembarangan parkir di area masjid atau pura.

Mengindari kemacetan, tentunya warga saling membantu mengurus parkir meskipun ada pecalang atau petugas masjid yang menjaga pada setiap area. Tidak hanya pura dan masjid yang ada di Jalan Pulau Selayar, tetapi ada wihara. “Pembangunan wihara sudah dilakukan sejak 57 tahun yang lalu, “ungkap A.A. Gede Ngurah. Wihara yang berada di Jalan Pulau Suraga itu banyak dikunjungi oleh umat Budha. Selain itu, terdapat juga perumahan kecil yang ditempati oleh umat Kristen dan Katolik. Semua umat beragama yang ada di Jalan Pulau Selayar hidup rukun, saling menghargai, dan saling menghormati satu sama lain. Dengan demikian, keragaman yang ada diantara umat beragama tetap menjadi warna sangat indah yang mewarnai Bumi Panji Sakti yang terbalut oleh kebhinekaan.

Berita Seputar Galungan

Tak Bisa Tak Menjadi Penghalang Berdirinya, Penjor Sederhana


Selasa (31/10), Umat Hindu membuat penjor saat Penampahan Galungan merupakan suatu kewajiban. Tak terkecuali, seorang pemuda yang baru saja menamatkan pendidikannya di SMAN di Kota Semarapura juga sibuk membuat penjor. Ia adalah Yogi. Nama yang sangat sederhana, sederhana penampilannya. Selama ia menjadi siswa SMA tak pernah membantu ayahnya membuat penjor. Kali ini ayahnya sedang mengikuti pendidikan di Jakarta sehingga mau tidak mau ia harus bisa mendirikan penjor di depan rumahnya. Walaupun pekerjaan ini dilakukan setiap enam bulan sekali, pekerjaan ini tak pernah dilakukan Yogi. Namun, ia tak patah semangat untuk menyambut Galungan dengan mendirikan penjor di depan rumahnya. Dia bertanya pada tetangganya cara merias penjor. Semua peralatan yang berhubungan dengan penjor sudah disiapkan ibunya. Dengan penuh perjuangan mengerjakan sendiri, penjor sederhana akhirnya dapat berdiri di depan rumahnya. Kegembiraannya tak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum kecil memandangi penjor yang baru saja didirikan. Terbersit kebanggaan dalam dadanya karena sudah bisa menggantikan posisi ayahnya mendirikan penjor saat penampahan. Penampahan Galungan yang jatuh pada Selasa Wage Dunggulan warga di lingkungan Banjar Gunung Niang, Semarapura Klod Kangin, sibuk membuat penjor untuk menyambut hari kemenangan, yaitu hari raya Galungan. Warga membuat penjor secara bersamaan. Tepat pukul 18.00 semua penjor sudah berdiri di depan rumah setiap warga di lingkungan Banjar Gunung Niang. Setiap orang memandangi hasil karyanya dan sesekali bercengkrama dengan tetangga yang kebetulan selesai mendirikan penjor. Tanpa disadari satu per satu warga di lingkungan Banjar Gunung Niang sudah meninggalkan penjor yang telah didirikan. Kini tinggal penjor masing-masing yang berdiri tegak menatap langit biru seolah ingin menyampaikan kegembiraanya ikut menyambut hari kemenangan. Lambaian sampian yang berada diujung penjor seolah menunjukkan kesenangan juga.
Saat Yogi akan beranjak mandi ke kali, tiba-tiba handphonenya berdering, kemudian ia melihat handphonenya yang berisikan “Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan dumogi polih kerahayuan.” Tiba-tiba ia tersenyum melihat pesan singkat itu karena pengirimnya tidak lain adalah kekasihnya. Betapa senangnya menerima pesan dari kekasihnya, ia langsung membalas pesan singkat dari kekasihnya, “Nggih suksma mewali Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan.”
Yogi melanjutkan mandi ke kali bersama teman-temnya. Di kali ia bercerita pada teman-temannya. Ia mengatakan betapa senangnya ia mampu menyelesaikan pekerjaan yang boleh dikatakan susah karena tak pernah ditekuni. Dengan keterpaksaan karena ayahnya tak ada di rumah ia harus mengambil pekerjaan itu. Kalau ada niat dan kemauan serta semangat untuk mengerjakan niscaya akan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.
“Iya, Gik, kamu tak pernah membantu ayahmu membuat penjor. Tiba-tiba ayahmu tak ada di rumah, penjor sudah berdiri tegak di depan rumahmu. Kamu hebat, Gik,” puji Alit temannya.
“Benar juga kata Alit, kamu hebat, Gik. Aku salut sama kamu. Tak pernah belajar, tiba-tiba mengerjakan pekerjaan itu langsung jadi dan hasilnya, wah, luar biasa,” sanjung Mudra temannya.
“Aku ingin tahu, gimana prosesnya kok tiba-tiba penjornya udah berdiri,” tantang Alit
“Oh, itu. Gampang! Mula-mula aku dibantu ibu mengangkat bambu yang sudah ada di belakang rumah. Bambu disandarkan dipagar depan rumah. Aku ambil ambu yang sudah dibelikan ibuku di pasar tadi pagi, lalu kurobek-robek dengan pisau. Setelah lepas dari lidinya aku goyang-goyang agar mekar, kemudian aku ikatkan pada bambu dengan bantuan tali tutus. Setelah bagian pinggang bambu dihiasi dengan ambu, giliran bagian cabang bambu diberikan sarana persembahyangan, seperti jajan gina, pisang, tebu, dan sarana berupa hasil pertanian, seperti ubi, jagung, padi. Bagian batang yang menjulur ke atas dihiasi dengan gublag-gablig, yaitu daun ambu dibuat melengkung, kemudian dijarit. Panjangnya bergantung selera. Tak lupa kain putih dan kuning diikatkan pada tengah. Ujung bambu diikatkan sampian penjor, jadilah, penjor sederhana ala Yogi,” jelas Yogi panjang lebar.
“Hore, kamu memang hebar! Aku ingin ada Yogi 1 dan Yogi 2 pada hari Penampahan enam bulan yang akan datang. Tanpa belajar, didasari rasa tulus dan ikhlas menyambut kemenangan darma melawan adarma sebuah penjor sederhana akirnya bisa berdiri di depan rumahnya di Jalan Werkudara 39 Semarapura Klodkangin,” sambut Mudra dengan penuh suka cita.

Seni Lukis

Pengertian Seni Lukis             Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa yang tercipta dari hasil imajinasi seniman yang die...