Selasa, 14 November 2017

Opini

Toleransi Antarumat Beragama Cerminan Bhineka Tunggal Ika
Oleh
Luh Ade Widiantari

            Umat beragama adalah umat yang saling menghargai, menghormati, dan mampu beradaptasi dengan umat beragama lainnya dengan baik menurut sudut pandang agama dan dianutnya. Toleransi antarumat beragama juga berpengaruh terhadap cerminan dari Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Begitu arti simbol dari Bhineka Tunggal Ika. Arti simbol tersebut dapat diubah dan saat ini arti simbol sudah dikenal di seluruh penjuru Indonesia. Toleransi adalah suatu sikap atau perilaku yang saling menghormati dan saling menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Toleransi antarumat beragama dimulai dari diri sendiri agar terciptanya saling menghormati dan menghargai antarumat beragama lainnya.
             Menurut A. A. Gede Ngurah mengatakan toleransi yang diterapkan sangat tinggi untuk umat agama lainnya. A. A. Gede Ngurah sebagai kelian Pura Taman Sari sudah masa jabatan 8 tahun. Menjabat kelian Pura tidak mudah. Banyak perubahan yang dilakukan demi perubahan Pura Taman Sari. Ratusan tahun yang lalu pura sudah berdiri, tetapi sebelumnya bernama Pura Gerojogan, kemudian berubah nama menjadi Pura Taman Sari sejak 1968. Pura Gerojogan yang saat itu terkenal sakralnya di Buleleng tahun 1801. Masjid belum didirikan hanya pura yang lebih dahulu ada di Jalan Pulau Selayar. Selain itu, fenomena dari Pura Taman Sari disungsung oleh Subak Kayupas. Pura Pamayun Banyuning juga nunas tirta di Pura Taman Sari serta melakukan persembahyangan. Banyak masyarakat yang percaya dengan Pura Taman Sari dan masyarakat selalu berdatangan melakukan persembahyangan termasuk mahasiswa Undiksha.
A.A. Gede Ngurah menjadi kelian pura telah membuat Pura Taman Sari menjadi lebih baik. Mulai dari patung, piasan, dan adanya wantilan. “Dilihat dari tahun sebelumnya, Pura Taman Sari tidak ada perubahan karena kelian pura beda pemikiran dengan kelian yang sekarang,” jelas Gede Ngurah. Masyarakat mulai berbaur dengan umat agama lainnya dan ingin mendirikan sebuah masjid di dekat Pura Taman Sari. A.A. Gede Ngurah mengatakan pembangunan masjid telah disetujui dan ia juga memberikan toleransi terhadap umat agama Islam. A.A. Gede Ngurah sangat terbuka dengan masyarakat sehingga ia menerapkan sistem toleransi yang baik dan benar, serta ia memberikan pelajaran kepada generasi muda saat ini. Moh. Bakri (53) adalah seorang pengurus masjid di Jalan Pulau Selayar 21 dan berasal dari Madura. Menjadi pengurus masjid sejak tahun 1978 hingga sekarang. Menurut Moh. Bakri yang merupakan pengurus Masjid di Jalan Pulau Selayar 21 mengatakan bahwa zaman dulu masyarakat menyebut sebagai musolla bukan masjid. Ketika musolla yang berdiri sejak tahun 1942 itu berubah nama menjadi Masjid Al-Maimuni.
Masyarakat hidup rukun dan damai tanpa adanya masalah karena masyarakat menerapkan sistem toleransi yang dikatakan oleh A.A. Gede Ngurah, yaitu kejujuran, kebaikan, dan kebenaran. Selain itu, masyarakat di sana membangun usaha tempe dan tahu. Usaha tersebut terkenal sehingga banyak mahasiswa yang berkunjung dan melakukan observasi mengenai cara pembuatan tempe, tahu. Akhirnyya,  hasil observasi dijadikan sebuah penelitian oleh mahasiswa. Moh. Bakri mengatakan bahwa mahasiswa tidak hanya berkunjung cara membuat tahu dan tempe, tetapi mahasiswa juga berkunjung ke Pura Taman Sari untuk bergotong royong. Pada akhirnya Masjid Al-Maimuni dan Pura Taman Sari menjadi satu di Jalan Pulau Selayar sampai saat ini.
Pura dan masjid dekat dengan pantai. Masyarakat mulai beradaptasi dengan  lingkungan mereka masing-masing. Menurut Moh. Bakri ketika umat Islam membuat acara besar, seperti Idul Fitri, sebagian warga memotong hewan kurban. Setelah mereka memotongnya, kemudian warga memberikan kepada umat lain dalam bentuk silaturahmi. Sebaliknya umat Hindu memiliki acara yang besar, seperti perkawinan umat lain mengadakan kunjungan. Begitu juga saat umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu umat lain ikut membantu menertibkan parkir meskipun sudah ada pecalang yang mengatur. Seiring berjalannya waktu, hal itu sering dilakukan agar tidak terjadi pertentangan antarsesama umat agama lainnya dan selalu terjalin hubungan yang rukun serta harmonis. Moh. Bakri mengatakan selama tinggal bersama dengan umat agama lain tidak pernah terjadi konflik atau pertentangan. Mereka menjalaninya dengan baik hingga saat ini. Moh. Bakri menambahkan pengurus pura atau masjid harus membagi jalan menjadi dua untuk pengendara motor dan mobil saat memiliki acara besar. Hal itu dilakukan karena jalan tersebut sempit dan tidak boleh sembarangan parkir di area masjid atau pura.

Mengindari kemacetan, tentunya warga saling membantu mengurus parkir meskipun ada pecalang atau petugas masjid yang menjaga pada setiap area. Tidak hanya pura dan masjid yang ada di Jalan Pulau Selayar, tetapi ada wihara. “Pembangunan wihara sudah dilakukan sejak 57 tahun yang lalu, “ungkap A.A. Gede Ngurah. Wihara yang berada di Jalan Pulau Suraga itu banyak dikunjungi oleh umat Budha. Selain itu, terdapat juga perumahan kecil yang ditempati oleh umat Kristen dan Katolik. Semua umat beragama yang ada di Jalan Pulau Selayar hidup rukun, saling menghargai, dan saling menghormati satu sama lain. Dengan demikian, keragaman yang ada diantara umat beragama tetap menjadi warna sangat indah yang mewarnai Bumi Panji Sakti yang terbalut oleh kebhinekaan.

Berita Seputar Galungan

Tak Bisa Tak Menjadi Penghalang Berdirinya, Penjor Sederhana


Selasa (31/10), Umat Hindu membuat penjor saat Penampahan Galungan merupakan suatu kewajiban. Tak terkecuali, seorang pemuda yang baru saja menamatkan pendidikannya di SMAN di Kota Semarapura juga sibuk membuat penjor. Ia adalah Yogi. Nama yang sangat sederhana, sederhana penampilannya. Selama ia menjadi siswa SMA tak pernah membantu ayahnya membuat penjor. Kali ini ayahnya sedang mengikuti pendidikan di Jakarta sehingga mau tidak mau ia harus bisa mendirikan penjor di depan rumahnya. Walaupun pekerjaan ini dilakukan setiap enam bulan sekali, pekerjaan ini tak pernah dilakukan Yogi. Namun, ia tak patah semangat untuk menyambut Galungan dengan mendirikan penjor di depan rumahnya. Dia bertanya pada tetangganya cara merias penjor. Semua peralatan yang berhubungan dengan penjor sudah disiapkan ibunya. Dengan penuh perjuangan mengerjakan sendiri, penjor sederhana akhirnya dapat berdiri di depan rumahnya. Kegembiraannya tak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum kecil memandangi penjor yang baru saja didirikan. Terbersit kebanggaan dalam dadanya karena sudah bisa menggantikan posisi ayahnya mendirikan penjor saat penampahan. Penampahan Galungan yang jatuh pada Selasa Wage Dunggulan warga di lingkungan Banjar Gunung Niang, Semarapura Klod Kangin, sibuk membuat penjor untuk menyambut hari kemenangan, yaitu hari raya Galungan. Warga membuat penjor secara bersamaan. Tepat pukul 18.00 semua penjor sudah berdiri di depan rumah setiap warga di lingkungan Banjar Gunung Niang. Setiap orang memandangi hasil karyanya dan sesekali bercengkrama dengan tetangga yang kebetulan selesai mendirikan penjor. Tanpa disadari satu per satu warga di lingkungan Banjar Gunung Niang sudah meninggalkan penjor yang telah didirikan. Kini tinggal penjor masing-masing yang berdiri tegak menatap langit biru seolah ingin menyampaikan kegembiraanya ikut menyambut hari kemenangan. Lambaian sampian yang berada diujung penjor seolah menunjukkan kesenangan juga.
Saat Yogi akan beranjak mandi ke kali, tiba-tiba handphonenya berdering, kemudian ia melihat handphonenya yang berisikan “Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan dumogi polih kerahayuan.” Tiba-tiba ia tersenyum melihat pesan singkat itu karena pengirimnya tidak lain adalah kekasihnya. Betapa senangnya menerima pesan dari kekasihnya, ia langsung membalas pesan singkat dari kekasihnya, “Nggih suksma mewali Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan.”
Yogi melanjutkan mandi ke kali bersama teman-temnya. Di kali ia bercerita pada teman-temannya. Ia mengatakan betapa senangnya ia mampu menyelesaikan pekerjaan yang boleh dikatakan susah karena tak pernah ditekuni. Dengan keterpaksaan karena ayahnya tak ada di rumah ia harus mengambil pekerjaan itu. Kalau ada niat dan kemauan serta semangat untuk mengerjakan niscaya akan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.
“Iya, Gik, kamu tak pernah membantu ayahmu membuat penjor. Tiba-tiba ayahmu tak ada di rumah, penjor sudah berdiri tegak di depan rumahmu. Kamu hebat, Gik,” puji Alit temannya.
“Benar juga kata Alit, kamu hebat, Gik. Aku salut sama kamu. Tak pernah belajar, tiba-tiba mengerjakan pekerjaan itu langsung jadi dan hasilnya, wah, luar biasa,” sanjung Mudra temannya.
“Aku ingin tahu, gimana prosesnya kok tiba-tiba penjornya udah berdiri,” tantang Alit
“Oh, itu. Gampang! Mula-mula aku dibantu ibu mengangkat bambu yang sudah ada di belakang rumah. Bambu disandarkan dipagar depan rumah. Aku ambil ambu yang sudah dibelikan ibuku di pasar tadi pagi, lalu kurobek-robek dengan pisau. Setelah lepas dari lidinya aku goyang-goyang agar mekar, kemudian aku ikatkan pada bambu dengan bantuan tali tutus. Setelah bagian pinggang bambu dihiasi dengan ambu, giliran bagian cabang bambu diberikan sarana persembahyangan, seperti jajan gina, pisang, tebu, dan sarana berupa hasil pertanian, seperti ubi, jagung, padi. Bagian batang yang menjulur ke atas dihiasi dengan gublag-gablig, yaitu daun ambu dibuat melengkung, kemudian dijarit. Panjangnya bergantung selera. Tak lupa kain putih dan kuning diikatkan pada tengah. Ujung bambu diikatkan sampian penjor, jadilah, penjor sederhana ala Yogi,” jelas Yogi panjang lebar.
“Hore, kamu memang hebar! Aku ingin ada Yogi 1 dan Yogi 2 pada hari Penampahan enam bulan yang akan datang. Tanpa belajar, didasari rasa tulus dan ikhlas menyambut kemenangan darma melawan adarma sebuah penjor sederhana akirnya bisa berdiri di depan rumahnya di Jalan Werkudara 39 Semarapura Klodkangin,” sambut Mudra dengan penuh suka cita.

Rabu, 25 Oktober 2017

Berita

Hijau Dibutuhkan Semua Orang





            (Minggu 22/10), sayuran saat ini sangat mudah didapatkan karena cuaca mendukung. Membutuhkan waktu dan proses yang lama untuk panen sayuran. Komang Miarsana (42) dan Luh Mertani (42) yang mempunyai sepetak tanah yang ditanami sayuran dan menghasilkan sayuran yang baik. Pekerjaan petani sudah lama dijalani selama 10 tahun. Tanah yang dimiliki oleh Komang Miarsana dan Luh Mertani merupakan tanah warisan dari kakak Luh Mertani. Sayuran yang ditanam berbagai jenis ada kangkung, sayur hijau, terong, dan bayam. Proses menanam sayuran tersebut membutuhkan waktu selama 25 hari sampai panen. Selain itu, menanam sayur membutuhkan pupuk urea, pupuk kandang, dan daun-daun yang sudah di bakar. Komang Miarsana tidak pernah mengeluh saat bekerja karena pekerjaan tersebut sudah sehari-hari dilakukan bersama Luh Mertani. “Saat tanah masih kosong saya mencangkul lebih dulu setelah itu saya membakar daun-daun yang kering dan memberikan pupuk kandang,” ucapnya. “Selain mencangkul dan memberikan pupuk kandang, saya menyiram tanah dengan  air dari sungai menggunakan alat,” tegasnya sambil memberikan pupuk pada sayuran.
            Proses ini dilakukan secara bertahap agar sayuran saat di panen tetap segar dan sehat saat dikonsumsi. Dalam hal ini, Luh Mertani bertugas memanen sayuran tepat 25 hari. Ketika musim hujan tiba, sayuran tidak akan bisa tumbuh dengan baik. “Kalau musim hujan mulai tiba, saya tidak menanam sayuran karena sayuran akan cepat mati karena digenangi air,” ucap Luh Mertani. “Solusi yang saya lakukan dengan cara tidak menanam sayuran untuk sementara waktu,” jelasnya sambil memanen bayam. “Sayuran tidak bagus ketika tumbuh dan merugikan saya,” tegasnya. Waktu panen tiba, Luh Mertani mempersiapkan bayam yang telah dipanen, kemudian dikumpulkan 55 ikatan menjadi 1 gabung. Cara panen Luh Mertani sangat cepat dan teliti karena ada sayur yang tumbuhnya kurang baik. “Ini saya lakukan sejak lama hingga 10 tahun dan saya bekerja dengan cepat dan melihat juga sayuran yang tumbuhnya kurang baik,” ucapnya.

            Sayur bayam yang sudah dipanen, kemudian dikumpulkan dan siap dijual kepada pengepul. Permintaan sesuai dengan pasar. “Ini tergantung dari harga sayuran dipasaran, kalau harganya murah dijual murah sebaliknya jika harganya dipasaran mahal djual mahal,” kata Luh Mertani. Setelah selesai panen sayur bayam, tanah kembali dicangkul oleh Komang Miarsana. “Tanah yang telah dicangkul, kemudian rumput dikeringkan. Selang dua hari, rumput yang sudah mengering, kemudian dibakar,”  kata Komang Miarsana. “Setelah dibakar saya memberikan  pupuk kandang, kemudian disiram dengan air sungai yang menggunakan alat bantu,” ucapnya. Hal itu dilakukan secara terus-menerus tanpa kenal lelah. Banyak tetangga yang minta sayuran pada Pak Komang. “Saya sering minta bayam atau kangkung pada Pak Komang Miarsana,” kata Ketut Sariani. “Saya ingin membayar, tetapi Pak Komang Miarsana tidak menerimanya,” ucapnya. Pak Komang menyuruh tetangga mencari sayur-sayurnya yang disukai. “Cari saja kalau membutuhkan,” kata Pak Komang Miarsana dengan ramah. Tetangga merasa senang dengan keramahan Pak Komang Miarsana. Mereka lebih mudah mencari sayur tidak harus ke pasar, cukup membeli atau minta dengan Pak Komang Miarsana. “Sayuran itu sangat penting untuk dikonsumsi dan saya merasa senang karena dekat dengan tanaman sayur di sini,” kata Ketut Sariani mengakhiri pembicaraan.

Dongeng

Tikus Yang Pemalu

oleh : Luh Ade Widiantari

            Pada sebuah hutan yang rindang, hiduplah seekor tikus yang selalu menyendiri. Tikus ini tidak mau bergaul dengan teman-temannya. Dia tidak percaya diri karena dia bau, kotor, dan tidak pandai berbicara. Teman-temannya di hutan sangat banyak.  Ada  tupai, kelinci, dan pak kera. Pada suatu hari, kelinci mencari makanan bersama tupai, kemudian mereka bertemu dengan tikus yang sedang menyendiri.
“Hai, tikus sedang apa kau di sini?” tanya tupai.
Tikus tidak mau menjawab pertanyaan tupai, ia bergegas lari dan meninggalkan temannya.
“Ada apa dengan tikus, dia tidak menjawab pertanyaanku,” katanya heran.
“Sudahlah tupai. Mari kita cari makanan lagi aku sangat lapar,” kata kelinci sambil berjalan.
Tak lama kemudian kelinci dan tupai bertemu dengan pak kera.
“Kalian mencari makanan, ya?” tanya pak kera.
“Iya, pak kera, kami sangat lapar,” jawab kelinci.
“Besok adalah hari ulang tahunku. Kalian harus datang, ya,”pinta pak kera.
“Wah, benarkah itu pak kera?” tanya kelinci.
“Horeee, akhirnya bisa mendapat makanan yang banyak,” kata tupai dengan senang. Mereka sangat senang dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada pak kera. “Selamat ya, pak kera! Kami pasti akan datang,” jawab tupai.
“Baiklah aku tunggu kehadiran kalian, sampai jumpa,” kata pak kera.
* * *
Di sekeliling hutan yang lebat, tupai dan kelinci melihat surat yang ditempel oleh pak kera. Tiba-tiba tupai dan kelinci bertemu lagi dengan tikus yang sedang mencari makanan.
“Hai, tikus besok ulang tahun pak kera, lho! Semua penghuni hutan diundang. Apakah kau mau datang?” tanya tupai.
Tikus hanya diam dan tidak mau bicara.
“Tikus, jawab dong jangan diam aja,” kata kelinci.
“Iya, benar kami ingin kau juga datang ya,” kata tupai sambil memegang tangan tikus. Tikus menghindar dari teman-temannya. Ia merasa malu dan takut berteman sebab tikus diketahui sebagai binatang yang kotor, menjijikkan, dan bau. Namun, teman-temannya tetap ingin mengajak tikus pergi ke pesta ulang tahun pak kera. Hari sudah senja dan saatnya untuk makan. Tupai dan kelinci makan bersama, sedangkan tikus hanya menyendiri di rumah kecil yang dibuat sendiri. Tikus merenung seorang diri.
Dalam hati, tikus berkata, “Aku takut berteman dengan kalian, padahal aku sangat ingin bisa bergaul dengan kalian dan punya banyak teman.” Namun,  melihat diriku yang bau dan kotor, aku tidak percaya diri dan tidak ingin memiliki teman. Aku harus bagaimana? Apakah aku harus datang ke pesta ulang tahun pak kera? Aku tidak berani mendekati teman-temanku yang tampan dalam keadaan seperti ini. Dalam hatinya, tikus ingin berteman dengan semua penghuni hutan, tetapi ia tidak percaya diri.
“Besok aku akan datang ke pesta ulang tahun pak kera,” katanya tegas. Aku harus berani dan aku harus bisa berteman dengan mereka. Aku tidak bisa terus-menerus hidup menyendiri seperti ini,” katanya dalam hati.
Dengan penuh keberanian tikus akan datang ke pesta ulang tahun pak kera esok hari.
Keesokan harinya, rumah pak kera ramai dikunjungi penghuni hutan dan memberikan ucapan selamat ulang tahun pada pak kera.
 “Selamat ulang tahun pak kera! Semoga kau tidak rakus ya,” kata kelinci menyindir pak kera.
“Wah, kelinci jail juga ya, tapi gak apa-apa terima kasih ya,” balas pak kera.
 “Sama-sama pak kera,” jawab kelinci sambil senyum.
“Terima kasih kalian sudah mau datang ke pesta ulang tahunku. Aku sangat senang,” kata pak kera dengan gembira.
“Mari, silahkan duduk dan nikmati makannya,” pinta pak kera.
Tupai dan kelinci sangat senang karena ada banyak makanan di rumah pak kera. Tak lama kemudian tikus datang ke pesta ulang tahun pak kera.
 “Hai, tikus akhirnya kau datang juga ke sini. Kau bawa apa untukku?” tanya pak kera.
Tikus yang pendiam itu sekarang berani bicara dan menjawab pak kera.
“Aku hanya membawa bingkisan kecil untukmu,” jawab tikus.
“Wah, terima kasih ya! Kau udah memberikan hadiah untukku,” ucap pak kera sambil memeluk tikus.
“Iya, sama-sama pak kera,” balas tikus.
Tupai dan kelinci menghampiri tikus yang sudah datang ke pesta ulang tahun pak kera.
“Tikus, akhirnya kau datang juga kemari,” kata tupai.
 “Iya, tupai! Aku memberanikan diri datang ke sini,” jawab tikus.
“Kau membutuhkan keberanian ya! Untuk apa? Bukankah kita teman?” tanya kelinci. “Iya, kelinci. Sebenarnya aku malu berteman dengan kalian karena aku ini bau, kotor, dan tidak pandai,” sesal tikus. Makanya, aku jauhi kalian, maaf ya,” kata tikus dengan menundukkan kepalanya.
“Wah, kau salah tikus! Kami tidak seperti itu kok. Kami ingin semua berteman dengan baik dan tidak ada yang boleh menyendiri seperti kau,” kata tupai.
“Iya, benar banget tupai. Aku setuju. Kau tidak boleh berpikir seperti itu, ya tikus. Kami tidak seperti yang kau pikirkan,” kata kelinci.
“Kami ingin kau mau berbicara dan berteman dengan kami karena sama-sama hidup di hutan. Jadi, kita sekarang berteman,” kata tupai sambil mengulurkan tangannya. “Baiklah, mulai sekarang kita adalah teman baik,” ikrar tikus sambil menumpukkan tangannya dengan tupai.

Akhirnya, tikus yang mulanya selalu menyendiri sekarang punya teman yang banyak di hutan. Mereka pun hidup rukun dan damai. 

Kosa Kata Bahasa Bali

Kosa Kata Bahasa Bali

            Bahasa bali merupakan bahasa yang unik. Mengapa dikatakan unik? Ya karena bahasa bali adalah khas bagi orang di Bali dan selalu menggunakan bahasa Bali. Bahasa bali jika tidak digunakan dengan baik maka bahasa bali itu akan punah dan banyak yang digabungkan sehingga menjadi bahasa yang tidak jelas. Bahasa bali snagat penting dipelajari. Saat ini bahasa bali sering dikaitkan dengan bahasa yang kotor, mari kita lestarikan bahasa bali dan jangan pernah kalian melupakan bahasa bali. Berikut di bawah ini akan saya tulis kosa kata bahasa bali yang pernah dilupakan oleh masyarakat dan tidak pernah digunakan :
          1.    Bale artinya tempat tidur.
2.      Becik artinya baik.
3.      Buin artinya lagi.
4.      Cawan artinya cangkir.
5.      Cedok artinya gayung.
6.      Cekot artinya sendok untuk makan.
7.      Ceretan artinya tempat air minum.
8.      Gatra artinya kabar.
9.      Jaler artinya celana.
10.  Klambi artinya baju.
11.  Ledeng artinya keran.
12.  Lumur artinya gelas.
13.  Manyuh artinya kencing.
14.  Mapamit artinya pulang.
15.  Margi artinya jalan.
16.  Metakon artinya bertanya.
17.  Nare artinya kapar.
18.  Nguningayang artinya memberitahu.
19.  Onder artinya rok dalam.
20.  Pacentokan artinya perlombaan.
21.  Pamilet artinya peserta
22.  Payuk artinya tempat garam.
23.  Penghapus artinya palud.
24.  Pensil artinya potlot
25.  Pidabdab artinya persiapan.
26.  Rauh artinya datang.
27.  Sajabaning artinya kecuali.
28.  Saluir artinya seluruh.
29.  Sereg artinya kunci.
30.  Sirep artinya tidur.
31.  Sodo artinya sendok nasi yang besar.
32.  Songko artinya topi.
33.  Tempat duduk pinggir jalan artinya leneng.
34.  Tempayan artinya gentong.
35.  Tetujon artinya tujuan.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Perbedaan Ilmu Alam, Ilmu Sosial, dan Humaniora


Ø  Pengertian Ilmu Alam atau Sains
Dalam sejarah pemikiran filsafat, teori pengetahuan ini termasuk salah satu cabang filsafat yang didalamnya dibicarakan masalah yang berkenaan dengan hakikat sumber, cara, dan prosedur memperolehnya ataupun yang menyangkut nilai pengetahuan itu sendiri. Kata sains berasal dari bahasa latin “scientia” yang berarti pengetahuan, memandang dan mengamati keberadaan (eksistensi) alam ini sebagai obyek. Berdasarkan Webster New Collegiate Dictionary, definisi sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian atau pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum-hukum alam yang terjadi, misalnya didapatkan, dibuktikan, melalui metode ilmiah. Sains pada prinsipnya merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari dan dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survey, studi kasus dan lain-lain).

Ø  Pengertian Ilmu Sosial
Ilmu sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Ilmu ini berbeda dengan seni dan humaniora karena menekankan penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia, termasuk metoda kuantitatif dan kualitatif. Istilah ini juga termasuk menggambarkan penelitian dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku dan interaksi manusia pada masa kini dan masa lalu. Berbeda dengan ilmu sosial secara umum, tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberikan tinjauan yang luas terhadap masyarakat.

     Menurut KBBI humaniora adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya. Pendidikan humaniora dimaksudkan untuk mengisi kawasan sikap (affrctive domain) dengan nilai-nilai yang tinggi demi memanusiawikan ilmu dan teknologi, serta menyeimbangkan manusia menjadi makhluk yang peka, insaf, dan mampu menghayati nilai-nilai yang terkandung dalamnya, kemanusiaan yang beradab dan alam semesta. Pendidikan humaniora juga sebagai sarana pembentukan manusia yang seimbang, yang memahami bahwa disamping alam materi dan alam ideal terdapat alam nilai dan alam spiritual lainnya.

            Dari pengertian diatas dapat disimpulkan perbedaan antara ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora adalah ilmu alam mempelajari pemikiran filsafat, ilmu sosial sekelompok yang mempelajari aspek berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya, serta humaniora mempelajari ilmu pengetahuan dan membuat lebih berbudaya.

Sumber :


Jumat, 07 Juli 2017

Manfaat Jahe Bagi Kesehatan


           
            Apakah anda mengetahui gambar di atas? Sudah tidak diragukan lagi manfaat jahe bagi kesehatan. Saat musim hujan banyak penyakit yang masuk ke dalam tubuh kita seperti pilek, batuk, panas, sakit kepala, dan lain-lain. Banyak orang tua yang mengkonsumsi jahe sebagai penghangat baik untuk di minum ataupun dibuat menjadi lulur dalam bahasa bali disebut boreh. Orang tua zaman dahulu sering mengkonsumsi jahe agar tetap menjaga kesehatan tubuh. Jahe bila di minum sangat bagus karena bisa menghilangkan sakit pada tenggorkan serta bersifat menghangatkan. Selain itu manfaat lainnya dari jahe adalah sebagai berikut :
1.   Menurunkan berat badan
Jahe seperti yang disebutkan diatas bahwa jahe dapat melebarkan pembuluh darah yang membakar kalori menjadi panas tubuh dan jahe hanya mengandung sedikit kalori yang terkandung, sehingga tidak berkontribusi untuk menaikan berat badan. Mengkonsumsi jahe dengan cara membuat wedang setiap hari dapat menjaga kesehatan dan metabolisme tubuh. Sumber : http://ayokesehatan.blogspot.co.id/2014/07/23-manfaat-jahe-menakjubkan-untuk-kesehatan-tubuh.html#

2.      Membersihkan kotoran dalam tubuh
Apabila sering mengkonsumsi jahe secara rutin dengan cara diseduh, hal tersebut dapat membuat tubuh menjadi berkeringat. Melalui keringat itulah dikeluarkan berbagai jenis kotoran jahat yang terdapat dalam tubuh. Sumber : http://ayokesehatan.blogspot.co.id/2014/07/23-manfaat-jahe-menakjubkan-untuk-kesehatan-tubuh.html#

3.      Menghangatkan tubuh
Pada zaman dahulu orang tua menggunakan jahe dibuat menjadi lulur atau boreh. Maksudnya adalah cara menggunakan atau membuat menjadi lulur langkah pertama siapkan jahe, cengkeh, beras, dan air secukupnya. Semua dicampurkan setelah itu jadilah lulur atau disebut dengan boreh. Usapkan pada badan anda sampai semua rata, tunggu sampai lulur atau boreh itu kering lalu mandi dengan air hangat. Maka badan anda menjadi segar dan bisa tidur dengan nyenyak. Ini dilakukan dalam seminggu sekali, membuat kulit anda halus dan tidur menjadi baik.






Manfaat Kunyit


           

Anda pasti sudah mengetahui gambar di atas, yang satu ini adalah kunyit. Ya ,benar sekali kunyit ini bisa ditemukan dimana-mana karena tumbuhnya juga dari tanah. Kunyit mempunyai banyak khasiat atau manfaat bagi kesehatan juga. Anda sudah mengetahui manfaatnya bukan? Yang pertama menyembuhkan sakit perut saat mengalami menstruasi untuk wanita. Saya mencoba membuat jamu dari kunyit saat sakit perut, langkah yang dilakukan yaitu mengupas kulit kunyit dengan bersih kemudian di parut, setelah itu kita ambil airnya saja. Ampas dari kunyit yang saya buat dijadikan pupuk untuk tanaman, campurkan madu dan jeruk nipis kemudian jamu bisa diminum. Rasa sakit perut akan hilang setelah minum jamu kunyit, selain itu kunyit juga bisa menyembuhkan penyakit seperti menetralkan kotoran di dalam tubuh dan sebagainya.

Seni Lukis

Pengertian Seni Lukis             Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa yang tercipta dari hasil imajinasi seniman yang die...